Saruaso saruaso.id — Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal terasa begitu kuat dalam persiapan Pulang Basamo Nasional (Pulbasnas) 2026 di Nagari Saruaso. Masyarakat bersama pemerintah nagari menyambut kegiatan ini dengan penuh antusias, menjadikannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum kebangkitan identitas budaya.
Wali Nagari Saruaso menyampaikan apresiasi tinggi terhadap panitia pelaksana, khususnya peran aktif PKK yang telah melakukan latihan intensif lebih dari satu bulan.
“Kami sangat mengapresiasi semangat panitia, terutama PKK. Mereka sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang,” ungkapnya.
Meski demikian, ia juga menaruh harapan besar kepada generasi muda agar lebih aktif terlibat. Saat ini, partisipasi pemuda masih sekitar 45 persen, dan diharapkan ke depan mereka dapat menjadi motor utama kegiatan budaya di nagari.
Pulbasnas tahun ini menjadi kebanggaan tersendiri, karena untuk pertama kalinya Kecamatan Tanjung Emas dipercaya menjadi tuan rumah, dengan Saruaso sebagai representasi nagari.
Lebih dari sekadar pertemuan perantau, Pulbasnas dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali memori masa lalu melalui budaya.
Beragam kesenian dan tradisi dari setiap jorong akan ditampilkan, mulai dari permainan anak nagari hingga kesenian tradisional yang minim sentuhan modernisasi. Tak hanya itu, kuliner khas juga menjadi daya tarik utama.
Beberapa makanan tradisional yang direncanakan hadir antara lain:
Kuah Pake Anjang
Kaliki Muduk
Jagung Karambie Bergulo
Kuda-kuda (Kantong Semar)
serta berbagai kuliner khas lainnya dari tiap jorong
Semua disajikan sebagai bentuk nostalgia bagi para perantau yang telah lama meninggalkan kampung halaman.
Kegiatan ini juga memiliki misi sosial yang kuat: menarik kembali generasi muda dari pengaruh negatif seperti narkoba dan dampak buruk modernisasi.
Pemerintah nagari berharap kegiatan seni dan budaya dapat menjadi ruang positif bagi anak muda untuk mengekspresikan diri sekaligus mengenal jati diri mereka.
“Tujuan utama kita bukan hanya acara, tapi bagaimana generasi muda kembali mencintai budaya dan menjauhi pengaruh negatif,” tegasnya.
Selain pelestarian budaya, Pulbasnas juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan ini membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menjajakan produk lokal, terutama makanan tradisional.
Dalam satu hari pelaksanaan saja, perputaran ekonomi diharapkan mampu membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Tokoh adat diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga agar seluruh rangkaian kegiatan tetap sesuai dengan nilai-nilai budaya Minangkabau.
Sinergi antara unsur adat, pemerintah nagari, dan masyarakat—yang dikenal dengan tungku tigo sajarangan—menjadi kunci keberhasilan acara ini.
Ke depan, pemerintah nagari juga berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk fasilitas kesenian maupun pengemasan acara yang lebih profesional.
Di akhir penyampaiannya, Wali Nagari menitipkan pesan mendalam kepada generasi muda:
“Jangan lebih kagum pada budaya luar, sementara budaya sendiri kita abaikan. Warisan ini adalah hasil jerih payah nenek moyang kita, dan menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya.”
Pulbasnas bukan hanya tentang pulang kampung, tetapi tentang menghidupkan kembali rasa memiliki terhadap tanah kelahiran—tentang rindu yang dipertemukan dengan budaya, dan identitas yang kembali diteguhkan.
(**Tim Media)